cerpen singkat tentang sekolah
Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Lebih dari Sekadar Ruang Kelas
Senja di Balik Papan Tulis
Debu kapur menari di udara senja, partikel-partikel kecil yang berkilauan tertangkap cahaya matahari terakhir yang menyelinap melalui jendela kelas. Kelas VII-B, yang biasanya riuh dengan tawa dan bisikan, kini sunyi senyap. Hanya ada aku, Rina, yang masih duduk di bangku paling belakang, menatap papan tulis yang penuh coretan rumus matematika yang belum sepenuhnya kumengerti.
Bukan matematikanya yang membuatku betah berlama-lama di sini. Tapi aroma buku-buku tua dari perpustakaan di seberang kelas, suara kendaraan yang melintas di jalan raya, dan bayangan pepohonan rindang di halaman sekolah yang menenangkan. Senja di kelas ini memberiku ketenangan yang tidak kutemukan di rumah.
Rumah bagiku adalah medan pertempuran antara ibu dan ayah. Pertengkaran mereka bagaikan badai yang mengoyak hatiku setiap hari. Di sekolah, meskipun terkadang merasa kesulitan dengan pelajaran, aku menemukan teman-teman yang bisa membuatku tertawa, guru-guru yang peduli, dan dunia yang lebih berwarna.
Hari ini, aku bertengkar dengan sahabatku, Sinta. Masalahnya sepele, tentang siapa yang lebih pantas menjadi ketua kelas. Tapi di balik perebutan posisi itu, ada persaingan yang lebih dalam, tentang popularitas dan pengakuan. Aku merasa Sinta semakin menjauh, terpengaruh oleh teman-teman barunya yang lebih modis dan gaul.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Aku benci merasa sendirian. Aku benci pertengkaran. Aku benci matematika. Tiba-tiba, pintu kelas berderit. Pak Anton, guru Bahasa Indonesia yang selalu tersenyum, berdiri di ambang pintu.
“Rina, belum pulang?” tanyanya lembut.
Aku menggeleng. Pak Anton masuk dan duduk di bangku depan, menghadapku.
“Ada masalah?” tanyanya lagi, kali ini sambil menatapku dengan tatapan yang menenangkan.
Aku menunduk, tidak berani menatap matanya. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku yang campur aduk ini.
“Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin bercerita. Tapi ingat, Rina, kamu tidak sendirian. Sekolah ini bukan hanya tempat untuk belajar, tapi juga tempat untuk bertumbuh. Tempat untuk belajar menghadapi masalah, belajar memaafkan, dan belajar menjadi diri sendiri,” kata Pak Anton, suaranya penuh dengan kebijaksanaan.
Dia kemudian bercerita tentang pengalamannya sendiri saat masih sekolah, tentang bagaimana dia pernah merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana, tentang bagaimana dia mengatasi rasa tidak percaya dirinya dengan membaca buku dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
“Sekolah ini adalah miniatur kehidupan. Di sini kamu akan bertemu dengan berbagai macam orang, menghadapi berbagai macam tantangan. Tapi ingat, setiap tantangan adalah kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Kata-kata Pak Anton bagaikan oase di padang pasir. Aku merasa lega, seolah beban berat yang selama ini membebani pundakku sedikit terangkat. Aku mulai bercerita tentang pertengkaranku dengan Sinta, tentang perasaan tidak amanku, tentang kesulitan belajarku.
Pak Anton mendengarkan dengan sabar, tanpa menghakimi. Dia memberiku saran yang sederhana namun efektif, tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan baik, bagaimana cara menghargai perbedaan, dan bagaimana cara belajar dengan efektif.
“Rina, Sinta adalah sahabatmu. Jangan biarkan persaingan kecil merusak persahabatan kalian. Bicaralah dengannya, jujurlah tentang perasaanmu. Dan ingat, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Fokuslah pada pengembangan dirimu sendiri,” katanya.
Sebelum pulang, Pak Anton meminjamkan aku sebuah buku kumpulan cerpen karya penulis terkenal. “Baca ini. Siapa tahu kamu bisa mendapatkan inspirasi,” ujarnya sambil tersenyum.
Aku pulang dengan hati yang lebih ringan. Senja di balik papan tulis hari ini telah memberiku pelajaran berharga, tentang persahabatan, tentang kepercayaan diri, dan tentang pentingnya memiliki tempat yang aman untuk berbagi. Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tapi juga tempat untuk menemukan diri sendiri.
Pramuka dan Janji yang Terlupakan
Matahari menyengat kulit. Udara panas dan berdebu. Kami, anggota Pramuka kelas VIII, sedang mengikuti kegiatan perkemahan di Bumi Perkemahan Cibubur. Aku, Dimas, merasa jengkel. Bukan karena panasnya matahari atau debunya yang membuatku gatal, tapi karena aku harus satu kelompok dengan Rina, gadis yang selalu mengkritikku.
Rina selalu menganggapku ceroboh dan tidak becus. Setiap kali aku melakukan kesalahan, dia selalu mengomel dan menyalahkanku. Padahal, aku hanya ingin bersenang-senang. Pramuka bagiku adalah kesempatan untuk melupakan pelajaran yang membosankan dan bermain bersama teman-teman.
“Dimas, coba lihat simpulmu ini! Berantakan sekali! Bagaimana mau jadi Pramuka Garuda kalau simpul tali temalinya saja tidak benar?” omel Rina sambil menunjuk simpul tali temaliku yang memang terlihat tidak rapi.
Aku mendengus. “Sudahlah, Rina. Tidak usah terlalu serius. Ini kan cuma latihan,” jawabku malas.
“Cuma latihan? Ini penting, Dimas! Kalau kamu tidak serius, bagaimana kita bisa memenangkan perlombaan?” balas Rina dengan nada tinggi.
Aku semakin kesal. Aku tidak mengerti mengapa Rina selalu begitu serius dalam segala hal. Dia selalu ingin menjadi yang terbaik, selalu ingin menang. Padahal, bagiku, yang penting adalah kebersamaan dan kesenangan.
Malam harinya, diadakan acara api unggun. Kami semua berkumpul mengelilingi api yang berkobar-kobar, menyanyikan lagu-lagu Pramuka dan mendengarkan cerita-cerita inspiratif dari para pembina. Aku duduk di samping Rina, tapi kami tidak saling berbicara.
Saat acara api unggun selesai, kami kembali ke tenda masing-masing. Aku merasa lapar dan haus. Aku lupa membawa bekal makanan dan minuman yang cukup. Aku melihat Rina sedang mengeluarkan bekalnya dari tas.
“Rina, bolehkah aku minum?” Saya bertanya dengan ragu-ragu.
Rina menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ini,” ujarnya sambil menyodorkan botol air minumnya.
Aku menerima botol itu dengan senang hati. Aku meneguk air itu hingga tandas.
“Terima kasih,” ucapku tulus.
Rina mengangguk. “Kamu lapar?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Rina kemudian mengeluarkan sebungkus roti dari tasnya. “Ini, makanlah,” ujarnya sambil menyodorkan roti itu kepadaku.
Aku terkejut. Aku tidak menyangka Rina akan berbagi denganku. Aku menerima roti itu dengan perasaan terharu.
“Terima kasih, Rina. Kamu baik sekali,” ucapku.
Rina tersenyum tipis. “Kita kan satu tim. Kita harus saling membantu,” ujarnya.
Malam itu, aku belajar sesuatu yang berharga dari Rina. Aku belajar bahwa di balik sikapnya yang serius dan kritis, dia memiliki hati yang baik dan peduli. Aku juga belajar bahwa kebersamaan dan saling membantu adalah hal yang lebih penting daripada persaingan dan kemenangan.
Keesokan harinya, kami mengikuti perlombaan memasak. Aku dan Rina bekerja sama dengan baik. Aku membantu menyiapkan bahan-bahan, sementara Rina memasak dengan cekatan. Kami berhasil membuat masakan yang lezat dan memenangkan perlombaan.
Saat menerima hadiah, aku dan Rina saling bertatapan dan tersenyum. Kami menyadari bahwa kami telah menjadi tim yang solid. Kami telah belajar saling menghargai dan saling melengkapi.
Perkemahan Pramuka ini telah mengubah pandanganku tentang Rina dan tentang Pramuka. Aku menyadari bahwa Pramuka bukan hanya tentang tali temali dan simpul-simpul, tapi juga tentang persahabatan, kerja sama, dan kepedulian. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi Pramuka yang lebih baik, Pramuka yang selalu siap membantu sesama. Janji yang terucap, semoga tak terlupakan seiring berjalannya waktu.

